Kamis, 29 April 2010

Non-Farmatological Pain Managemen

Teknik Relaksasi

Menganjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara, menghembuskan-nya secara perlahan-lahan, melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut, punggung serta, menulangi hal yang sama sambil terus berkosentrasi hingga didapati rasa nyaman, tenang dan rileks.

Teknik relaksasi didasaarkan pada keyakinan bahwa tubuh berespon pada ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri/kondisi penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan ketegangan fisiologis. Teknik ini dapat dilakukan dengan kepala ditopang dalam posisi berbaring/duduk di kusi hal utama yang dibutuhkan dalam pelaksanaan teknik relaksasi adalah klien dengan posisi yang nyaman, klien dengan pikiran yang beristirahat dan lingkungan yang tenang. Teknik relaksasi banyak jenisnya, salah satunya adalah relaksasi autogenik, relaksasi ini mudah dilaksanakan dan tidak beresiko.

Distraksi

Teknik Distraksi adalah teknik yang dilakukan untuk mengalihkan perhatian klien dari nyeri, teknik distraksi yang dapat dilakukan adalah:

a. Melakukan hal yang sangat disukai, seperti membaca buku, melukis menggambar disebut dengan tidak meningkatkan stimulus pada bagian tubuh yang dirasa nyeri.

b. Melakukan kompres hangat pada bagian tubuh yang dirasakan nyeri.

c. Bernafas lembut dan berirama secara teratur

d. Menyanyi berirama dan menghitung ketukannya.

Terapi Musik

Terapi musik adalah proses interpersonal yang digunakan untuk mempengaruhi keadaan fisis emosional, mental, estetik, dan spiritual untuk membantu klien meningatkan/mempertahankan kesehatannya.

Massage/Pijatan

Merupakan manipulasi yang dilakukan pada jaringan lunak yang bertujuan untuk mengatasi masalah fisik-fungsional/terkadang fisiologi. Pijatan dilakukan dengan penekanan terhadap jaringan lunak baik secara terstruktur/tidak, gerakan-gerakan/getaran, dilakukan menggunakan menggunakan bantuan media ataupun tidak.

Beberapa teknik massage yang dapat dilakukan untuk distaksi adalah sebagai berikut:

a) Remasan, usap otot bahu dan remas secara bersamaan.

b) Selang-seling, tangan memijat punggung dengan tekanan pendek cepat dan bergantian tangan.

c) Gesekan, Memijat punggung dengan ibu jari, gerakannya memutar sepanjang tulang punggung dari sacrum ke bahu.

d) Eflurasi, memijat pungung dengan kedua tangan, tekanan lebih halus dengan arah berlawanaan menggunakan gerakan meremas.

e) Petriasi, menekan punggung secara horizontal, pindahkan tangan anda dengan arah berlawanan menggunakan gerakan meremas.

f) Tekanan menyikat secara halus, tekan punggung dan ujung-ujung jari untuk mengakhiri pijatan.

Guided Imaginary

Guided Imaginary yaitu upaya yang dilakukan untuk mengalihkan persepsi rasa nyeri dengan mendorong pasien untuk mengkhayal dengan bimbingan tekniknya, sebagai berikut:

  1. Atur posisi yang nyaman pada klien
  2. Dengan sura yang lembut, mintakan klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan/pengalaman yang membantu penggunaan semua indera
  3. Mintakan klien untuk tetap berfokus pada bayangan menyenangkan sambil merelaksasikan tubuhnya.
  4. Bila klien tampak rileks, perawat tidak perlu bicara lagi.
  5. Jika klien menunjukan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak nyaman perawat harus menghentikan latihan dan memulihkannya lagi ketika klien siap.

Akupuntur

Akupuntur adalah teknik pengobatan tradisional yang berasal dari cina untuk memblok chi dengan menggunakan jarum dan menusukannya ke titik tubuh tertentu yang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan yin dan yang.

Kesimpulan

Setiap individu membutuhkan rasa nyaman, kebutuhan rasa nyaman ini dipersepsikan berbeda pada tiap orang. Dalam konteks asuhan keperawatan, perawat harus memperhatikan dan memenuhi rasa nyaman. Gangguan rasa nyaman yang dialami oleh klien diatas oleh perawat melalui intervensi keperawatan. Intervensi keperawatan dalam mengatasi masalah nyeri berupa non-farmatological pain managemen antara lain distraksi, relaksasi dan guided imaginary selain itu terdapat pula beberapa therapy non-farmatological yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri seperti akupuntur oleh akupunturistik, terapi musik, pijatan dan guided imaginary yang dilakukan oleh seseorang yang ahli dibidangnya dan disebut sebagai therapist.


http://winddyasih.wordpress.com/2008/12/15/non-farmatological-pain-managemen

Kebutuhan Dasar Manusia, Aziz Alimul H, Salemba media.

Rabu, 28 April 2010

Damage Due to Impaired Mobility Happen

Disruption occurred due to damage in the mobilization of a variety, so it depends on the location of the disturbance or owned by the patient mobilization. Some disruption caused if the mobilization is not dealt with seriously, among others:

Metabolic System. Disturbances caused by mobilization of the metabolic system damage if not handled with an intense will cause imbalance of body fluids, so that if the resulting dehydration and edema can increase the rate of damage on other networks, which damages the skin and other tissues immobilized on the client. Slow healing of wounds that can also be caused by damage to the mobility of this system

Respiratory System. Disruption occurred due to respiratory system damage in this mobilization, among others, an asymmetrical chest wall movement, dispnu Crakles, wheezing, and increased respiratory acceleration of the normal limits. Thus, nursing tindakkan to immobilization needed to optimize client return on the state Respiratory system better.

Cardiovascular System. Disturbances caused by mobilization of damage in the cardiovascular system include orthostatic hypotension, increased pulse, the third heart sound, peripheral pulse weaker, peripheral edema, and so forth.

Musculoskeletal System. Disturbances caused by mobilization of damage in the system such muskuloskletal erythema, increasing the diameter of the calf or thigh, the decline in baskets of motion, joint contractures, activity intolerance, muscle atrophy, kontaktur joints, and so forth. Given the need to move or mobilization is centered on this system, so that the mobilization system disorders should be treated with intensive studies of clients with this immobilization.

Integumentary System. Disturbance caused by damage to the skin that is mobilized in the system damages the integrity of the skin. So due to the immobilization on this system, the damage will be more widespread on the skin.

Elimination System. Disturbances caused by mobilization of damage in this system include decreased urine output, dark or cloudy urine, decreased frequency of defecation, abdominal distension and urinary content, and decreased bowel sounds.

Increased body temperature. Because of the involution of the uterus that is not good, so the remaining blood can not be expelled and causing infection and one of the signs of infection is increased body temperature.

Abnormal bleeding. With early mobilization of uterine contractions would be good, so the uterine fundus is hard, then the risk of abnormal bleeding can be avoided, because the contraction to form a narrowing of blood vessels open.

Involution of the uterus that is not good. Not done early mobilization will inhibit extravasation and the rest of the placenta, causing disruption of uterine contractions.

An accurate assessment, lead nurse in the intervention before the other diseases that result from damage caused mobilization in each of the systems that are experiencing immobilisation.

Pengaruh Enzim terhadap pH

Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1,4- dan alfa-l,6-glikosida (Anonim, 2008).

Enzim digolongkan menurut reaksi yang diikutinya, sedangkan masing-masing enzim diberi nama menurut nama substratnya, misalnya urease, arginase dan lain-lain. Di samping itu ada pula beberapa enzim yang dikenal dengan nama lama misalnya pepsin, tripsin dan lain-lain. Oleh Commision on Enzymes of the International Union of Biochemistry, enzim dibagi dalam enam golongan besar. Penggolongan ini didasarkan atas reaksi kimia di mana enzim memegang peranan (Poedjiadi, 2006)

Dalam mempelajari mengenai enzim, dikenal beberapa istilah diantaranya holoenzim, apoenzim, kofaktor, gugus prostetik, koenzim, dan substrat. Apoenzim adalah suatu enzim yang seluruhnya terdiri dari protein, sedangkan holoenzim adalah enzim yang mengandung gugus protein dan gugus non protein. Gugus yang bukan protein tadi dikenal dengan istilah kofaktor. Pada kofaktor ada yang terikat kuat pada protein dan sukar terurai dalam larutan yang disebut gugus prostetik dan adapula yang tidak terikat kuat pada protein sehingga mudah terurai yang disebut koenzim. Baik gugus prostetik maupun koenzim, keduanya merupakan bagian yang memungkinkan enzim bekerja pada substrat. Substrat merupakan zat-zat yang diubah atau direaksikan oleh enzim (Poedjadi, 2006).

Enzim meningkatkan laju sehingga terbentuk kesetimbangan kimia antara produk dan pereaksi. Pada keadaaan kesetimbangan, istilah pereaksi dan produk tidaklah pasti dan bergantung pada pandangan kita. Dalam keadaan fisiologi yang normal, suatu enzim tidak mempengaruhi jumlah produk dan pereaksi yang sebenarnya dicapai tanpa kehadiran enzim. Jadi, jika keadaan kesetimbangan tidak menguntungkan bagi pembentukan senyawa, enzim tidak dapat mengubahnya (Salisbury dan Ross, 1995).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi enzim diantaranya adalah (Dwidjoseputro, 1992) :

1. Suhu
Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktig enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang.

2. pH
Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum, yang lazimnya berkisar antara pH 4,5-8.0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversibel karena menjadi denaturasi protein.

konsentrasi enzim


Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksibertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.

konsentrasi substrat


Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepat reaksi. Akan tetapi, pada batas tertentu tidak terjadi kecepatan reaksi, walaupn konsenrasi substrat diperbesar.zat-zat penghambat

Hambatan atau inhibisi suatu reaksi akan berpengaruh terhadap penggabungan substrat pada bagian aktif yang mengalami hambatan. Suatu enzim hanya dapat bekerja spesifik pada suatu substrat untuk suatu perubahan tertentu. Misalnya, sukrase akan menguraikan rafinosa menjadi melibiosa dan fruktosa, sedangkan oleh emulsin, rafinosa tersebut akan terurai menjadi sukrosa dan galaktosa (Salisbury dan Ross, 1995).

Amilase merupakan enzim yang paling penting dan keberadaanya paling besar, pada bidang bioteknologi, enzim ini diperjual belikan sebanyak 25% dari total enzim yang lainya. Amilase didapatkan dari berbagai macam sumber, seperti tanaman, hewan dan mikroorganisme. Amilase yang berasal dari mikroorganisme banyak digunakan dalam industri, hal ini dikarenakan mikroorganisme periode pertumbuhanya pendek. Amilase pertama kali yang diproduksi adalah amilase yang berasal dari fungi pada tahun 1894 (Anonim, 2008).

Amilase (alfa, beta dan glukoamilase) merupakan enzim yang penting dalam bidang pangan dan bioteknologi. Amilase dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti tanaman, binatang dan mikroorganisme. saat ini sejumlah enzim amilae telah diproduksi secara komersial. Penggunaan mikrobia dianggap lebih prosepektif karena mudah tumbuh, cepat menghasilkan dan kondisi lingkungan dapat dikendalikan (Anonim, 2008).

Produksi enzim amilase dapat menggunakan berbagai sumber karbon. Contoh-contoh sumber karbon yang murah adalah sekam, molase, tepung jagung, jagung, limbah tapioka dan sebagainya. Jika digunakan limbah sebagai substrat, maka limbah tadi dapat diperkaya nutrisinya untuk mengoptimalkan produksi enzim. Sumber karbon yang dapat digunakan sebagai suplemen antara laian: pati, sukrosa, laktosa, maltosa, dekstyrosa, fruktosa, dan glukosa. Sumber nitrogen sebagai suplemen antara lain: pepton, tripton, ekstrak daging, ekstrak khamir, amonium sulfat, tepung kedelai, urea dan natrium nitrat (Anonim, 2008).

Untuk uji deteksi amilase, degradasi yang terjadi pada pati diketahui dengan hilangnya material yang terwarnai oleh iodine. Uji deteksi α amylase yang menghidrolisis α-1,4-glikogen dan poliglucosan lainnya. Pada saat awal perlakuan terjadi penurunan yang cepat berat molekul pati yang dihasilkan dari pewarnaan iodine. Produk akhir utama dari degradasi ini adalah oligosakarida dengan berat molekul yang rendah. Sebaliknya, β-amilase mampu mengkatalisis sebuah serangan exolitik dan mendegradasi pati dengan cara memecah maltose dari ujung rantai pati. Enzim amylase dari B. subtilis dapat dipisahkan satu sama lain dan secara subsekuen mengeluarkannya bersama maltose. Enzim amylase dapat dipisahkan dari protease dengan menambahkan insoluble starch ke dalam kultur untuk menyerap amilase (Mahbub, 2008).

Aktivitas amilase dilakukan oleh enzim bakteri dan terlihat berwarna biru di dalam iodin. Apabila iodin menyebabkan media pati berwarna biru pada koloni bakteri maka tidak ada amilase yang diproduksi. Molekul maltosa yang kecil dapat masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Interaksi iodin dengan pati membuat media berwarna biru gelap. Menurut Ekunsaumi, produksi enzim amilase oleh koloni bakteri pada media ditunjukkan adanya zona bening dengan penambahan larutan iodin di sekitar koloni bakteri (Mahbub, 2008).

Komposisi dan konsentrasi media sangat mempengaruhi produksi dari enzim amilase ekstraseluler pada bakteri, yeast, dan Aspergillus sp. Shinke dalam Srivastava menyatakan bahwa komposisi medium sangat mempengaruhi produksi amilase, seperti halnya sporulasi pada Bacillus cereus. Keberadaan pati akan menginduksi produksi amilase. Keadaan lingkungan dan sumber nitrogen pada media kultur juga akan mempengaruhi pertumbuhan produksi amilase. Disamping karbon dan nitrogen, sodium dan garam potassium, ion metal, dan detergen juga akan mempengaruhi produksi amilase dan pertumbuhan mikroorganisme (Mahbub, 2008)
Aktivitas enzim sangat erat terkait dengan struktur enzim, maka setiap perubahan dalam struktur sekunder atau tersier menyebabkan perubahan aktivitas enzim. Dalam percobaan ini, kita telah menguji pengaruh pH terhadap aktivitas amilase. Molekul yodium membentuk kompleks dengan pati yang memiliki karakteristik dalam warna biru. Seperti mengalami hidrolisis pati untuk membentuk oligosakarida dan glukosa, karakteristik warna-iodine kompleks pati menghilang. Oleh karena itu, kehilangan warna biru dapat digunakan untuk mengukur tingkat hidrolisis pati.

Kurva hubungan antara pH dengan laju reaksi suatu enzim biasanya menghasilkan gambar seperti lonceng, seperi yang terlihat pada gambar. (Mohamad Sadikin : 2002)

Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat keasamaan dengan laju reaksi maksimum ini, rentang pH yang diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan bukan dalam rentang antara pH 1 sampai 14. Alasanya sederhana saja, oleh karena tidak ada sistem dapar tunggal universal yang dapat mencakup rentang pH sedemikian lebar. (Mohamad Sadikin : 2002)

Dapat dilihat adanya nilai pH tertentu, yang memungkinkan anzim bekerja maksimum, pH tersebut dinamakan pH-optimum. Dalam lingkungan keasamaan seperti itu. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat, sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Di luar pH optimum tersebut, struktur 3 enzim mulai berubah, sehingga substrat tidak lagi dapat duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Akibatnya proses katalis berjalan tidak optimum. Dapat juga dikatakan, molekul enzim, karena struktur 3 dimensinya yang sudah mulai berubah, tidak dapat lagi “memegang” substrat dengan baik yang untuk selanjutnya diolah. Oleh karena struktur 3 dimensinya yang sudah mulai berubah akibat pH yang sudah tidak optimum, dikatakan bahwa molekul protein dari enzim kehilangan fitrah atau segala keadaan dan sifat alamiah. Dengan perkataan lain, enzim mengalami deneturasi. Jika nilai pH optimum, misalnya dengan cara medialisis dampuran tersebut, beberapa enzim akan pulih kembali aktivitasnya. Dikatakan, enzim tersebut kembai ke fitrah atau mengalami renaturasi. Nilai pH optimum ini biasanya netral atau tidak jauh dari itu, meskipun ada pula enzim yang bekerja maksimum pada pH yang sangat asam, yaitu 1, seperti pepsin dan rennin. (Mohamad Sadikin : 2002)

Sabtu, 24 April 2010

OBAT IMUNOSUPRESAN

Penggunaan imunosupresan bertujuan untuk mendapatkan toleransi spesifik (terarah), yaitu toleransi terhadap suatu antigen tertentu saja. Alasan dikehendakinya suatu toleransi spesifik, dan bukan umum, ialah karena toleransi umum dapat membahayakan individunya, khususnya memudahkan timbulnya penyakit infekis berat. Tetapi sayangnya toleransi spesifik seringkali sulit dicapai.

3.1. Pilahan Obat Imunosupresan


Secara praktis, di klinik penggunaan obat imunosupresan berdasarkan waktu pemberiannya. Untuk itu, respon imun dibagi dalam dua fase:



-Fase pertama adalah fase induksi, yang meliput

  • Fase pengolahan antigen oleh makrofag, dan pengenalan antigen oleh limfosit imunokompeten
  • Fase proliferasi dan diferensiasi sel B dan sel T


Fase kedua adalah fase produksi, yaitu fase sintesis aktif antibodi dan limfokin.

Berdasarkan respon imun, imunosupresan dibagi menjadi tiga kelas:
  • Kelas I: harus diberikan sebelum fase induksi yatu sebelum terjadi perangsangan oleh antigen. Kerjanya merusak limfosit imunokompeten. Jika diberikan setelah terjadi perangsangan oleh antigen, biasanya tidak diperoleh efek imunosupresif sehingga respon imun dapat berlanjut terus.
  • Kelas II: harus diberikan dalam fase induksi, biasanya satu atau dua hari setelah perangsangan oleh antigen berlangsung. Obat golongan ini bekerja mengambat proses diferensiasi dan proliferasi sel imunokompeten, misalnya antimetabolit.
  • Kelas III: memiliki sifat dari kelas I dan II. Jadi golongan ini dapat menghasilkan imunosupresi bila diberikan sebelum maupun sesudah adanya perangsangan oleh Antigen.


Tabel 48.1. Pilahan Imunosupresan

Pustaka: Farmakologi dan Terapi edisi 4 FKUI 1995, hal.707.


3.3. Beberapa Obat Imunosupresan


Azatioprin


Azatioprin sudah digunakan selama 20 tahun untuk menekan penolakan cangkok organ ginjal dan sudah merupakan prosedur yang diterima. Juga digunakan untuk pengobatan artritis reumatoid berat yang refrakter.

Toksisitas terhadap darah seperti leukopenia dan trombositopenia harus dimonitor dengan baik sebagai petunjuk penentuan dosis azatioprin.


Metotreksat (MTX)


Digunakan sebagai obat tunggal atau kombinasi dengan siklosporin dalam mencegah penolakan cangkok sumsum tulang. MTX juga berguna untuk penyakit autoimun dan peradangan tertentu. Saat ini disetujui untuk digunakan dalam pengobatan artritis reumatoid yang aktif dan berat pada orang dewasa dan pada psoriasis yang sudah refrakter terhadap obat lain.


Siklofosfamid


Secara umum siklofosfamid mengurangi respon imun humoral dan meningkatkan respon imun selular. Selain pada bedah cangkok, obat ini juga digunakan pada artritis reumatoid, sindrom nefrotik dan granulomatosis Wegener.


Kortikosteroid


Yang digunakan sebagai imunosupresan adalah golongan glukokortikoid yaitu prednison dan prednisolon.


Siklosporin (Cyclosporin A)


Berasal dari jamur Tolypocladium inflatum gams. Siklosporin punya efek imunosupresan karena mempunyai kemampuan yang selektif dalam menghambat sel T.

Siklosporin digunakan terutama dalam kombinasi denga prednison untuk mempertahankan ginjal, hati dan cangkok jantung pada transplantasi.

Antibodi


Rho (D) imunoglobulin


Antibodi ini merupakan bentuk spesifik dalam pengobatan imunologi untuk ibu denga Rho (D) negatif yang terpapar darah Rho (D) positif pada perdarahan karena abortus, amniosintesis, trauma abdomen atau kelahiran biasa dari janin.


Tabel 48.2. Penggunaan Imunosupresan di Klinik

Pustaka: Farmakologi dan Terapi edisi 4 FKUI 1995, hal.713.

Perhatian!

| Boleh Copy paste, tapi kalo anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback blog ini. |
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Silahkan gabung!